Senin, 04 Oktober 2010

Kampung Adat Mahmud, Pusat Penyebaran Agama Islam di Jawa Barat.

Kampung Adat Mahmud, sebuah kampung kecil di mulut sungai Citarum, sebuah kampung adat yang menyimpan nilai historis akan perkembangan dan persebaran agama Islam di kota Bandung pada khususnya dan di pelosok Jawa Barat pada umumnya. Sebuah kawasan yang tanpa diduga-diduga memiliki peranan sebesar itu, padahal ditinjau dari letak kawasan sepertinya tidak mungkin kampung tersebut begitu penting.
Ditengah teriknya sorotan matahari siang hari, kampung ini begitu biasa tanpa ada sesuatu yang menandakan kalau tempat ini merupakan tempat peziarahan kaum muslim. Dari jembatan Citarum Baru terlihat tidak nampak sesuatu yang membedakan Kampung Mahmud dengan kampung-kampung lainnya di pinggiran Kota Bandung. Kecuali ketika kita telah melintasi jembatan Citarum Baru, di sebelah kiri terdapat terminal angkutan umum Mahmud-Tegallega. Seperti terminal di pinggiran kota, jumlah angkutan umum tersebut dapat kita hitung dengan cepat, begitu lenggang tanpa ada aktivitas seperti layaknya sebuah terminal. Lurus dari jembatan terdapat sebuah plang bernuansa khas Islam yang sejuk warna hijau penanda kampung Mahmud, bertuliskan “Maqom Mahmud” Desa Mekar Rahayu Kecamatan Marga Asih Kabupaten Bandung. Dengan segera pasti kita bisa menerka-nerka selanjutnya, akan ada sebuah peziarahan atau makam-makam yang diziarahi karena sesuatu hal yang pernah dilakukan atau terjadi di Kampung Mahmud.
Kawasan yang hampir dikelilingi oleh aliran Sungai Citarum Lama, berpanoramakan kebun-kebun bambu yang tinggi menjulang dan rindang. Sebuah Kampung yang hanya dihuni oleh kurang lebih 400 KK, yang didalamnya terdapat 1 RW dan 4 RT. Dimana sebagian besar mata pencahariannya adalah petani, pengrajin dan pengusaha mebeul, sebagian kecil pedagang, sisanya pekerja. Sekarang ini penduduk Kampung Mahmud merupakan masyarakat asli Kampung dan sebagian lagi pendatang dari kawasan Jawa Barat dan sekitarnya. Menurut keterangan Lilis (39), warga pendatang yang berprofesi sebagai pedagang (warung), “Kampung ini dulu (1984)  sepi dibeberapa sudut dipenuhi kebun bambu yang rindang yang menyimpan berbagai jenis ular di pohonnya. Aliran sungai yang besar dan jernih menjadikan warga tidak pernah kesulitan air bersih untuk keperluan sehari-harinya.
Letaknya disebelah selatan dari Kota Bandung, agak kebarat. Meskipun sedikit terpencil di pinggiran kota Bandung, Kampung Mahmud dapat dijangkau dari berbagai arah, baik itu dari Patrol dengan catatan tidak dalam musim hujan. Karena satu-satunya akses jalan tanah yang menghubungkan Pameuntasan dan Kampung Mahmud akan terendam air sungai Citarum Lama di musim penghujan. Jalur yang paling disarankan adalah melalui Cigondewah, menggunakan angkutan umum Tegallega-Mahmud, yang akan berhenti di mulut Kampung Mahmud. Ongkos sekali jalan dari Tegallega sendiri Rp. 6.000,-. Dari terminal Kebon Kalapa kita bisa menggunakan angkutan umum menuju Tegallega, dari stasiun Hall. sendiri kita menggunakan angkutan umum menuju Tegallega, ada banyak pilihan dari keduanya. Hal yang harus diperhatikan adalah jam operasi angkutan umum yang hanya sampai jam 6 sore, maka dari itu anda harus menggunakan angkutan alternatif, yaitu ojek. Baik itu dari Cigondewah, Cicukang dan Cilampeni, dengan tarif yang tidak terlalu mahal. Sekitar sepuluh ribuan sekali jalan.
Memasuki kawasan kampung, kita masih akan bertanya-tanya keheranan, mencari-cari suatu yang khas yang menandakan keislaman suatu kawasan disamping berdirinya masjid-masjid. Jalanan utama Kampung Mahmud nampak lenggang berdebu, tidak ditemui pepohonan yang rindang di kanan kiri jalan, hanya rumah-rumah dan warung-warung kelontong yang menyediakan jajanan berupa makanan kecil dan minuman-minuman dingin. Justru pemandangan produksi rumah tangga furniture (mebeul-mebeul) berupa kursi, kayu dan lemari-lemari dengan ukiran yang sederhana namun tetap unik. Di suatu ruangan terdapat tempat bengkel penggergajian, di ruang lain terdapat kegiatan pengamplasan, dan seterusnya. Dalam kualitasnya dapat terjamin, karena bahan utamanya adalah kayu jati, yang didatangkan dari daerah Jampang, Sindang Barang, dan Cianjur Selatan.

Kampung Adat Mahmud, Kampung Mahmud di Mekkah?
Berbicara tentang Kamung Mahmud, sejarah serta peranannya dimasa lalu tidak dapat lepas dari sebuah nama besar yang dikeramatkan (waliyullah) hingga kini, Eyang Dalem Abdul Manaf.
Beliau merupakan keturunan ketujuh dari Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), putra dari Eyang Nayaderga Suntag Dulang (yang konon dimakamkan di kawasan Ujung Berung, dengan nama kawasan Suntag Dulang). Menurut salah satu sesepuh Kampung Mahmud, H. Syafeii, 58 thn, yang juga merupakan keturunan langsung dari Eyang Dalem Abdul Manaf (keturunan kesepuluh).
Eyang Dalem Abdul Manaf dalam perjalanan hidupnya (sekitar 500 tahun yang lalu) berpindah-pindah tempat, dan pernah bermukim di Tanah Suci Mekkah. Beliau konon pernah singgah di Kampung Mahmud Mekkah, dan kemudian membawa sekepal tanah dari tanah suci untuk kemudian mencari lokasi yang dianggap cocok sebagai pusat penyebaran agama Islam di Pulau Jawa, bagian Barat tepatnya.
Sepulang dari Mekkah, beliau berjalan-jalan di sekitar pinggiran sungai Citarum Lama dan melihat suatu tempat yang dikelilingi/ didominasi aliran sungai. Tempat tersebut merupakan daerah rawa-rawa (embel), dengan tekad dan niatnya yang kuat untuk menjadikan tempat penyebaran agama Islam di tempat itu, doanya diijabah oleh Allah SWT. Tanah yang dibawanya dari Mekkah kemudian ditaburkan kedaerah yang berupa rawa-rawa, tidak lama kemudian rawa tersebut menjadi tanah yang keras, tidak lagi tergenang oleh alir sungai Citarum, meskipun di musim penghujan dimana debit air sungai tinggi.
Sumber lain (H. Deden Abdullah Natapraja, Cigondewah) mengatakan kalau asal muasal nama Kampung Mahmud adalah dari kata mahmudah yang berarti “ahlakul mahmudah” akhlak yang terpuji. Hal tersebut muncul karena sikap dan perilaku masyarakat Kampung yang terpuji; jujur, rajin beribadah, amanah, dan lain-lain.
Beliau juga menjelaskan mengenai keprihatinannya akan patok atau tugu batas Kampung yang sering disalah artikan (dikeramatkan) oleh pengunjung, seharusnya pengunjung mengerti akan simbol-simbol tersebut. Baik itu makam, dan tugu kampung seharusnya dijadikan sebagai pengingat bahwa disini patriotisme Islam pertama kali muncul di Bandung (Jawa Barat pada umumnya).
Disana beliau mulai merintis perjuangan penyebaran ajaran Islam, dalam perjalanannya beliau didampingi dua orang murid yang patuh dan taat terhadap ajaran agama Islam. Eyang Agung Zainal Arif dan Eyang Abdullah Gedug.
Eyang Agung Zainal Arif adalah putra dari Eyang Asmadin atau dapat dikatakan keturunan keempat Syeikh Abdul Muhyi di Pamijahan Karang Nunggal Tasikmalaya. Dalam perjalanannya beliau diberi perintah untuk bertapa di 33 gunung di sekitar Kampung Mahmud selama 33 tahun. Untuk kemudian bersama-sama menyebarkan agama Islam di Jawa Barat. Lain halnya dengan Eyang Abdullah Gedug, beliau adalah murid yang dididik langsung oleh Eyang Dalem Abdul Manaf. Dari ketiga orang tersebut, ajaran Islam meluas di Bandung khususnya dan di Jawa Barat secara umum.
Hal tersebut yang menjadikan makamnya diziarahi oleh umat muslim dari berbagai tempat. Karena muncul kepercayaan, bahwa berziarah berarti mengingat mati, dan mengingat mati berarti berusaha berbuat baik di sisa kehidupan.” Tutur salah satu pengunjung/peziarah, H. Hasan, 56 Tahun, Bojong, Pensiunan RSHS Bandung.

Wisata Religi di Kampung Mahmud
Ma Haji, 110 th, Ibu dari H. Syafeii, menuturkan bahwa “Eyang Syeikh Dalem Abdul Manaf adalah Wali Bandung, dengan kata lain beliau yang memegang peranan penting dalam penyebaran Islam di Bandung. Makamnya sampai saat ini menjadi tujuan ziarah”
Pada beberapa peristiwa besar dalam Islam, di Kampung Mahmud dilaksanakan acara semacam peringatan, misalnya hari-hari pada bulan Rajab akan dilaksanakan Rajaban (27 Rajab), Muludan (12 Mulud), Marhaban, Ziarah Massal pada minggu kedua di bulan Syawal (setelah Idul Fitri), dll. Biasanya akan digelar shalawatan dan pengajian serta terebang sebagai salah satu kesenian buhun orang Sunda.
Lain halnya dengan kegiatan ziarah massal, dalam kegiatan ini masyarakat Kampung dan pengunjung/peziarah akan bersama-sama berziarah di Makam Eyang Syeikh Dalem Abdul Manaf, untuk menghadiahi doa serta bershalawat bersama.
Kampung Adat Mahmud tidak memiliki larangan hari, setiap harinya Kampung ini dapat dikunjungi, akan tetapi ada baiknya datang pada hari Kamis, Senin dan Jum’at karena biasanya akan banyak peziarah yang berkunjung. Dan mudah-mudahan sedang dilangsungkan acara marhabanan.

Bumi Adat
Sesuatu yang khas dari Kampung Mahmud dari segi arsitekturnya adalah bumi adat atau rumah panggung khas masyarakat Sunda, yang syarat akan filosofi hidup yang sederhana dan religius.
Rumah panggung, dengan bahan utama kayu, dan bilik sebagai penutup rumah. Dalam pembangunannya dihindari penggunaan kaca-kaca, sumur, genteng barong dan tembok.
Hal tersebut bukan tanpa sebab, menurut sesepuh desa, rumah merupakan tempat tinggal yang sementara yang tidak kekal. Manusia hendaknya membangun pondasi dengan keimanan dan ketakwaan terhadap Allah SWT, adalah tidak baik menurut ajaran Islam apabila seorang manusia lebih memikirkan pembangunan fisik yang duniawi seperti pembangunan rumah tinggal. Sebaiknya aktivitas lebih banyak dilakukan di luar rumah, dengan bekerja, beribadah di masjid dan bersilaturahmi dengan tetangga khususnya.
“Dengan rumah panggung, yang mencerminkan kesederhanaan, rasa iri dengki dan sombong tidak akan muncul dalam masyarakat. Yang penting itu beribadah, membangun pondasi iman dan takwalah yang seharusnya dilakukan dengan sungguh-sungguh.” Tutur H. Syafeii, yang rumahnya masih berbentuk panggung sejak dibangunnya pada tahun 1997. Walaupun pada perkembangannya akan sangat sulit ditemui bentuk asli dari rumah panggung (adat) Kampung Mahmud. Aliran sungai Citarum yang semakin tercemar, menjadikan sumur-sumur digali demi kelangsungan hidup, dan pendirian rumah menggunakan tembok.
Hal lain yang dipahing di Kampung Mahmud adalah memelihara domba (embe) dan soang atau bebek, serta masyarakat Kampung sangat dilarang untuk menampilkan kesenian wayang, menabuh goong dan menampilkan kesenian jaipongan yang diiringi sinden. Larangan secara tertulis memang tidak ada, namun biasanya apabila semua hal yang dilarang dilanggar biasanya akan menimbulkan bencana bagi yang melanggarnya, baik itu berupa penyakit, kesulitan ekonomi, rusak rumah tangganya, dan lain hal yang akibatnya buruk.

Terebang
Sebuah sajian kesenian bernuansa Islam, penuh pesan dakwah dan nilai-nilai ajaran para waliyullah. Di beberapa hari-hari besar dan peristiwa bersejarah dalam Islam kesenian ini akan ditampilkan di Kampung Mahmud.
Terebang sendiri adalah sebuah komposisi musik dan syair yang dilantunkan dengan kekhasan suara vokal, biasanya seperti Qasidahan, namun kekhasan suara vokal akan sangat dominan di telinga kita. Suara vokalnya sendiri disebut Beluk, Ngabeluk berarti bernyanyi dengan kekhasan tertentu. Alat musik terebang biasanya terdiri dari Dog-dog, kecrek, alat musik pukul rebana yang akan sangat dominan yang terdiri dari bentuk yang kecil dan besar yang menghasilkan komposisi suara yang berbeda.
Biasanya pembukaan terebang akan dilantunkan Basmallah dengan ngabeluk, kemudian lagu-lagu dan shalawatan. Kadang-kadang seni terebang akan disertai tarian, berupa silat yang dimodifikasi.
Di Kampung Mahmud sendiri, terebang merupakan salah satu alat atau media penyebaran agama Islam dan dakwah. Keberadaannya sangat penting pada zamannya, yang menyertai perjalanan penyebaran agama Islam di Bandung khususnya. Di Kampung Mahmud sendiri terdapat beberapa kelompok musik (grup) terebang, salah satu yang cukup terkenal adalah pimpinan H. Didin “AL-Madar”.
Pada perkembangannya terebang dimainkan dalam beberapa acara hajatan, seperti hajat sunatan (khitanan), acara pernikahan dan lain-lain. “Sekarang mah terebang tidak hanya sebagai media dakwah, tapi lebih ke bentuk sajian hiburan bernuansa Islami.” Tutur H. Syafeii.

Laduni
Ada satu hal yang menarik dalam ziarah kubur di Kampung Mahmud, pada salah satu makam, makam Eyang Aslimudin, kita dapat berziarah dan menyampaikan segala keinginan kita kepada Allah SWT terutama agar diberi kelancaran dalam mempelajari Al-Qur’an. Biasanya para santri akan menziarahi, dan setelahnya tentu saja dengan menghafal dan rajin membaca al-qur’an mereka senantiasa diberi kemudahan dalam menghafalnya.
Hal tersebut akan menjadi terlaksana ketika seseorang tidak hanya berdoa, karena inti dari doa sendiri adalah pelaksanaannya. Dan hal yang tidak boleh ditinggalkan setelah kita memiliki Laduni adalah, pengamalan dari isi Al-Qur’an itu sendiri. Niscaya tidak terdapat kesia-siaan bagi orang yang mempelajarinya.” Tutur H. Hasan dan H. Deden Abdullah Natapraja.



Tips
Beberapa hal yang harus anda perhatikan dan persiapkan ketika anda hendak berziarah atau sekedar berwisata dan menelusuri sejarah Kampung Mahmud, adalah :

1.                   karena cuaca yang relatif panas, jangan lupa melengkapi diri anda dengan topi dan baju lengan panjang berbahan penyerap keringat. Bagi wanita kerudung sepertinya cukup membantu mengurangi sorotan matahari siang hari. Bawalah payung untuk lebih nyaman lagi.

2.                   ada baiknya pengunjung membawa kacamata, selain menghindari mata kepanasan juga untuk menahan laju angin yang disertai dengan debu tentunya.

3.                   menyiapkan uang kecil recehan, karena pada harihari tertentu akan banyak dijumpai musafir dan fakir. Selain untuk sekedar infaq atau sumbangan.

4.                   bagi anda yang membawa kamera, anda boleh dengan bebas mengambil gambar di setiap sudut Kampung Mahmud. Akan tetapi ketika memasuki pemakaman, ada baiknya anda tidak mengambil gambar kuburan-kuburan. Kalaupun itu perlu hendaknya anda berkonsultasi terlebih dahulu dengan juru kunci makam (kuncen), dan patuhilah apa yang disarankan oleh juru kunci. Jangan pernah sekali-kali melanggar aturan dan norma yang berlaku di suatu tempat.

5.                   menjaga sikap dan perilaku adalah kunci kenyamanan dalam setiap perjalanan.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar